Satu tetes air mata pria itu terjatuh. Rasanya menatap orang yang sangat kita cintai dari jauh adalah hal yang paling menyakitkan. Apalagi menatapnya sedang sendirian. Itu adalah hal yang tak pernah bisa dia bayangkan. Jika saja gadis itu melihatnya, pasti dia akan langsung menyambar dan memeluk erat sambil meraba-raba wajahnya. Hal itu selalu bisa membuatnya terharu dan menangis. Dua kalimat paling menusuk untuk hatinya adalah, “Dunia bukan hanya untuk dilihat, namun dirasakan. Aku memang tak dapat melihat bagaimana dunia sebenarnya, namun aku bisa merasakan dunia itu lewat gelapnya pandangan mataku. Bukan hatiku.”

Kira-kira itu adalah hal yang paling menusuk tajam dalam jiwanya. Dia selalu menangis. Dan bahkan sampai tersedu-sedu. Hanya saja tak di depan dirinya.

Nama gadis itu adalah Gracia. Dia seorang gadis buta. Keinginan terbesarnya adalah melihat dunia kembali. Karena sekitar dua belas tahun yang lalu – ketika dia berumur lima tahun -, dia bisa melihat bagaimana dunia. Sampai sebuah kecelakaan yang merenggut penglihatannya. Sungguh hal yang paling dibencinya adalah itu.

Namun bagaimanapun juga, gadis itu tak bisa menyangkal sebuah kata yang bisa disebut ‘hidup’. Dia harus tetap hidup walau dalam keadaan gelap. Dia selalu membayangkan bagaimana wajah sang kekasih tercinta. Dia sungguh ingin melakukan operasi mata. Hanya satu tujuannya, untuk melihat orang yang amat mencintainya.

Dilihatnya lagi gadis berambut panjang itu. Pria tersebut menunduk sambil menitikan air mata kembali.

“Maafkan aku. Sekali lagi, maafkan aku, Gracia-ku.”


“Bagaimana keadaanmu?” suara itu geram dan serak. Gracia masih memandang ke depan dengan tatapan gelap.

“Tak buruk. Oh, ya. Minggu depan aku akan menjalani operasi mata. Ada seseorang yang mau mendonorkan korneanya untukku.” ucap Gracia ceria. Pria itu kembali mengeluarkan air mata.

“Syukurlah, aku turut berbahagia.”


“Grrr! Grrr!”

Monster itu tak bisa diam. Sesuatu telah membuatnya merasa tak enak. Dia terus berguling-guling tak menentu di atas tanah basah bekas hujan. Luka di dadanya mengeluarkan banyak darah. Dia tampak meringis dan menangis kesakitan. Walau tubuhnya begitu tegap dan gagah, siapa tahu ada kerentaan di balik hatinya. Bahkan dia sudah terlihat lemah. Dia terus menahan darah yang hendak keluar dari dadanya. Matanya basah berlinang menahan sakit yang teramat sangat mencekam. Bibirnya kelu tak bersuara. Hanya tiga kata yang bisa dia desahkan lewat bibir hitamnya yang penuh darah.

“Aku bukan monster…”


Gadis itu mulai membuka dan mengerjipkan matanya. Senyumnya mulai merekah ketika sebuah cahaya masuk dan terpantul dari lensa matanya. Dia sampai terharu keinginannya dapat terkabul.

“Ibu, aku bisa melihat dengan jelas sekarang. Walau kemarin pandanganku sedikit buram.” ucapnya bahagia dan menatap Ibunya yang terduduk di sana.

“Ibu, di mana Dean. Dia tak datang?”

“Tadi dia datang ke sini. Dia memberikanmu surat. Bacalah!” ucap Ibunya.

Gracia mulai membuka isi amplop itu. Sebuah amplop berwarna merah muda dengan secarik kertas cinta di dalamnya.

“Untukmu Graciaku.

Maaf aku tak bisa bertemu denganmu hari ini. Itu karena aku harus berangkat ke luar kota untuk memenuhi tugasku di sana. Aku harap aku tak akan lama. Dan kita bisa bersama lagi. Aku juga berharap kau tak akan sedih saat aku tak ada. Aku bahagia kau bisa kembali melihat. Jika ingin menghubungiku, kirimi saja aku surat.

Kekasihmu

Dean”

Surat itu begitu singkat dan padat bagi Gracia. Dia kembali melipat dan memasukan surat itu ke dalam amplopnya. Dia sedikit menangis mengingat dia tak dapat melihat wajah sang kekasih tercinta untuk pertama kalinya. Walaupun begitu, dia akan menunggunya sampai akhirnya dia kembali.


Pria itu berdiri di atas tebing tinggi. Tanpa kaos. Hanya sebuah celana panjang yang dia pakai. Celananya mirip seperti celana tentara. Dia menatap bulan di atas langit yang sedang enaknya menggantung di sana. Dia menitikan kembali setetes air mata dari pelupuk matanya. Setetes. Kembali terucap tiga kata yang salah satunya adalah nama dari kekasih tercinta.

“Maafkan aku, Gracia. Maaf sekali lagi maaf.”

Hanya itu yang keluar dari getaran bibirnya. Dan tak lebih sama sekali.


“Dear Deary

Aku sudah menantinya selama tiga bulan. Kapan dia akan pulang? Aku sungguh tak sabar untuk bertemu dengannya. Tiga bulan itu cukup lama. Jika sesuatu yang membuatmu tak bisa kembali padaku, aku bisa merelakanmu pergi dan tak usah kembali lagi. Tapi mengapa kau tak memberiku surat dan kabar lagi? Kau bilang, jika aku ingin menghubungimu, aku tinggal kirim surat. Yeah, aku akan melakukannya. Tapi itu jika kau menyelipkan sebuah alamat di amplop suratmu. Kau bahkan mengirim surat tanpa prangko. Kau kan langsung memberikannya pada Ibuku, tak melalui pos. Aku selalu mengharapkan kedatanganmu. Walau kau ingin memilih wanita lain, setidaknya berilah aku kabar atau ucapan selamat tinggal. Agar aku bisa tahu, apakah aku harus mempertahankan segala cintaku ini.”


“Grrr..! Grr…!”

Makhluk itu kembali menggeram dan meringis. Sekarang bukan dadanya, melainkan kakinya. Kakinya tertancap panah sewaktu di hutan. Dan itu membuat dia tak bisa menggerakan kakinya sama sekali. Dia kembali menitikan air matanya. Menahan sakit yang sudah menjalar hampir di seluruh tubuhnya. Juga menahan sakit yang ada pada hatinya. Bibirnya kembali bergetar,

“Aku bilang, aku bukan monster. Aku bukan monster…”


“Dean, apakah aku harus mengakuinya?” desahnya pelan sambil memegang sekuntum bunga mawar merah muda.

“Dean, berapa lama lagi aku harus menunggumu? Mengapa kau jadi seperti ini, Dean?” ucapnya sambil memetik setiap satu lembar kelopak mawar tersebut.

“Dean, jangan lama. Aku jemu menunggumu di sini. Jangan lama.”


“Kau mungkin bertanya, mengapa aku seperti ini? Semuanya karena keadaan. Aku merasa tak percaya diri harus bersanding dengan gadis secantik dirimu. Jika kau tahu siapa aku sebenarnya, masih maukah kau berjalan dan duduk di taman bersamaku? Aku tak bisa yakin akan itu. Aku tak bisa yakin terhadap diriku sendiri. Andai kata kau mau menerimaku apa adanya. Aku pasti akan merasa sangat bahagia. Walau aku tahu, aku benar-benar tak pantas untuk berdiri di sampingmu. Kuharap kau mengerti, Gracia.”


“Aku bukan monster!” jelasnya.

“Aku bilang aku bukan monster! Kalian jangan membunuhku! Aku tak akan menyakiti kalian!” jelasnya lagi dengan suara besar parau.

“Bagaimana kau bisa menjelaskannya? Kau manusia serigala! Dirimu membahayakan! Kau pantas dibunuh!”

“Tidak! Aku tak akan menyakiti siapapun. Termasuk Gracia, tidak akan!” dia terus meyakinkan pada mereka. Namun mereka sangat keras kepala.

“Diam, biar kubunuh kau pada hari ini juga, monster jahat!”

“Tidakk!”

Sleeb! Bau anyir dari tubuhnya tercium. Panah itu telah menikam dadanya hingga menembus punggungnya. Satu tembakan saja membuat nafasnya tersendat-sendat. Dia sekarat!

“Tidakkk!” teriak seorang gadis berambut panjang sambil menerobos kumpulan orang yang memanah makhluk tadi.

Air matanya meleleh melihat seseorang yang amat dinantinya tergeletak lemah dalam keadaan sekarat dan berlumur darah di dadanya. Monster itu memegang batang panah sambil berdesah,

“Gracia,”

“Dean, kau tahu arti kalimat ini?

‘Dunia bukan hanya untuk dilihat, namun dirasakan. Aku memang tak dapat melihat bagaimana dunia sebenarnya, namun aku bisa merasakan dunia itu lewat gelapnya pandangan mataku. Bukan hatiku.’ Kau tahu apa artinya Dean? Artinya, aku tak akan merasakan dengan hatiku, rasa dihatiku sudah beku untukmu. Biarkan aku merasakan dunia dengan mataku. Mataku, mataku tak buta Dean. Itu semua hanya bohong, Dean. Aku bisa melihatmu, Dean. Setiap hari. Bahkan wujudmu yang sebenarnya, Dean. Dean, mengapa kau tak datang ketika aku akan mengungkapkan seluruh rahasiaku, Dean? Apakah kau tak cukup yakin? Mengapa jika aku tak dapat melihat kau mau bertemu diriku, Dean? Apakah aku harus memusnahkan penglihatanku agar kau mau bersamaku, Dean? Dean? Dean! Kau tahu, megapa aku bisa langsung membaca suratmu, Dean? Itu karena aku sudah bisa! Aku tak buta! Aku tak buta! Dean, Dean! Aku mencintaimu! Jangan biarkan aku menunggu lagi! Jangan biarkan aku menunggu kematianku untuk bertemu denganmu! Dean, Dean!”

Gadis itu beteriak sambil memegang tubuh dan memeluknya – tubuh Dean monster -. Dia menangis melihat seseorang yang amat dicintainya sudah tak pasti untuk bisa melanjutkan hidupnya.

“Hanya kau yang aku cintai, Dean. Aku tak sanggup tanpamu. Aku tak sanggup. Di sinilah bersamaku, Dean. Mari kita mulai dari awal lagi.” isak Gracia.

“Maafkan aku, Graci-a.”

Terhenti. Nafas itu telah terhenti. Buka terhenti untuk sementara. Namun terhenti sampai ada saatnya untuk terhembus kembali. Sampai terhembus kembali. Mungkin akan terhembus sampai mereka akan bertemu kembali. Kembali. Dan terhenti. Gerak darahnya terhenti. Tak ada aliran lagi. Terhenti. Detak jantung dan nadinya terhenti. Tak terdengar lagi suara pompaan jantung itu. Terhenti. Beku. Seonggok monster yang telah terkaku. Terkulai. Tak akan ada lagi waktu untuk kembali lagi. Kembali membuka mata dan tersenyum. Tak ada lagi buaian tangan besarnya yang akan menghangatkan. Tak akan. Tak akan kembali. Sudah terhenti.

“Dean! Dean! Kau meninggalkanku? Kau tega? Dean, mengapa kau membiarkanku menunggumu lama lagi? Kau tak kasihan padaku? Tak kasihan? Dean! Dean!” isak tangisnya.

“Dean, kau tak mati, kan? Kau masih hidup? Tersenyum! Buai aku! Peluk! Bangun! Ayo! Ayo, Dean!” katanya sesenggukan.

Dia masih menggenggam erat baju berdarah monster itu. Dia masih sesenggukan sambil menahan kesakithatiannya.

Lolongan. Terdengar sebuah lolongan dari arah tebing di sana. Dia dapat melihatnya. Monster serigala tengah mengaung di sana di tengah bulan purnama yang besar. Monster itu melompat pergi ke arah bulan sampai hanya terlihat satu titik hitam kecil. Gracia menyeka bulir air matanya. Dia dapat melihat seorang pria tampan tertidur pulas di hadapannya.

“Aku tahu kau bukan monster. Maafkan aku, aku telah membohongimu selama ini. Aku dapat melihatmu, Dean. Jangan pernah berdusta lagi di antara kita, Dean. Aku mencintaimu.”

- SEKIAN -

Cerpen Karangan: Selmi Fiqhi

Facebook: https://www.facebook.com/selmifiqhikhoiriah

Facebook: Selmi Fiqhi Khoiriah

Twitter: @SelmiFiqhi

Ini merupakan cerita pendek karangan Selmi Fiqhi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Selmi Fiqhi untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis yang telah di terbitkan di cerpenmu, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!

Cerpen ini lolos moderasi pada: 21 September, 2013

Sesosok tubuh manusia kulihat sedang terduduk lesu sambil memeluk erat lututnya yang runcing di salah satu sudut ruangan. Seolah-olah takut kehilangan lututnya itu. Bangunan yang kumasuki ini bak istana para hantu. Tak terurus karena mungkin sudah di tinggalkan sang pemilik rumah sejak lama. Di halaman depan nampak berdiri kokoh pohon beringin bak seorang raja yang dikelilingi prajurit ilalang setinggi kurang lebih satu meteran. Di pekarangan samping kiri, terdapat sebuah sumur tua yang aku rasa sudah mengering. Karena ketika tadi aku iseng-iseng melemparkan batu ke dalamnya, tidak ada suara percikan air sama sekali. Atau mungkin sumur itu tak berujung. Sumur yang menghubungkan dunia kita dengan sebuah dimensi antah berantah. Di pekarangang kanan rumah terdapat sebuah kolam dan sepetak tanah dengan pepohonan yang mengering. Kolam itu Nampak gelap dalam siraman cahaya bulan purnama. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Seolah-olah waktu mati di tempat itu. Pekarangan sebelah kanan berbanding terbalik dengan pemandangan pekarangan sebelah kiri yang belukar. Di pekarangan belakang, rimbunan bambu saling bergesekan di terpa angin. Menciptakan satu harmoni yang tak biasa. Seolah-olah harmoni itu mencoba menggiring kita ke dimensi lain.

Ruangan tempat anak itu terduduk lesu sungguh sangat kotor, pengap dan lembap. Sarang laba-laba di mana-mana, kotoran sisa makan kelelawar berserakan, tikus-tikus berjalan kesana kemari seolah mengabaikan keberadaan kami. Bahkan ada beberapa tikus yang menggigit kaki anak itu. Bau anyir darah pun tak bisa di elakan. Ruangan ini gelap, hanya disinari sedikit cahaya bulah purnama yang masuk menerobos jendela kayu yang dibiarka terbuka.

Aku berjalan mendekati anak itu, mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan mengapa dia bisa ada di tempat menyeramkan ini. Harmoni gesekan bambu pun semakin keras, angin yang berhembus bertambah kencang, jendela kayu yang reot itu bergerak keluar masuk. Kreket… kreket… Bulu kuduku semakin berdiri. Keringat mulai deras bercucuran. Ternyata angin malam yang sangat dingin tidak mampu mendinginkan rasa takutku. Malah menambahnya.

Kini aku ada di hadapan anak itu. Dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Dia masih tertunduk sama seperti tadi. Tikus-tikus yang menggigiti ujung kakinya telah pergi. Tapi dia tetap diam seolah-olah tak merasakan sakit di ujung kakinya yang berdarah.

Aku pun berjongkok berusaha melihatnya lebih dekat lagi. Tapi dia tetap menundukan kepalanya. Aku sungguh bingung, apa yang sebearnya terjadi pada anak di depanku ini. Aku pun memberanikan diri membuka suara.

“Maaf mas, kalau boleh tahu mas lagi ngapain di tempat seperti ini?”

Tak ada jawaban, hanya hening. Nyaliku seketika menciut, menerka-nerka siapa gerangan mahluk di depanku ini. Manusia kah? Hantu kah? Zombie kah?. Lolongan serigala membah suasana yang mencekam semakin mencekam. Suara burung hantu pun tiba-tiba terdengar tepat ti atas rumah. Seolah-olah tak mau ketinggalan berpartisipasi dalam menciptakan suasana mengerikan ini. “Perfect” batinku.

“Namaku Zaenudin Bangun setiawan. Aku terpisah dari rombonganku dan tersesat hingga menemukan rumah ini. Apakah mas juga tersesat sama seperti aku?”

“Namaku Satrio Abimanyu. Aku pun sama sepertimu. Terpisah dari rombongan dan tersesat hingga menemukan rumah ini. Mereka sengaja meninggalkan aku sendiri ketika hendak buang air!”

Alangkah terkejutnya ketika dia memperlihatkan wajahnya. Samar-samar memang, tapi aku cukup mengenal baik tampang itu. Wajahnya, rambutnya, bibirnya, tahi lalat di dagu sebelah kananya, semua itu mengingatkan ku pada seseorang. Pada diriku sendiri. Ya, dia mirip denganku. Sangat mirip malah. Walaupun namanya berbeda. Tatapan matanya tajam, aku bisa merasakan energi dari pancaran matanya. Energi yang menyiratkan dendam karena rasa sakit hati. Dia tersenyum sinis. Tiba-tiba hatiku pilu. Aku bingung dengan apa yang aku rasakan. Ini aneh. Sangat aneh. Aku tidak pernah memilki saudara kembar. Ada satu rasa semacam ikatan batin denganya.

“Sejak kapan kamu berada di sini?” Aku memberanikan diri bertanya padanya.

“Sudah lama sekali. Sangat lama malah.”

“Kenapa kamu tidak keluar dari tempat yang mengerikan ini?”

“Tak ada alasan untuk aku meninggalkan tempat ini. Tempat ini sangat nyaman bagiku. Aku menikmati setiap kehidupanku di tempat ini.”

“Menikmati…”

“Ya, menikmatinya. Menikmati kesendirian, menikmati kekosongan dan menikmati kehampaan.”

Aku ngeri mendengar pernyataanya. Orang yang mirip aku ini sepertinya sudah tidak waras lagi. Sepanjang aku hidup, belum pernah ada orang yang mengatakan “Aku menikmati kesendirian, kekosongan dan kehampaan.”

“Apakah kamu pernah berfikir kelurgamu, kerabatmu, pacarmu, sahabatmu dan teman-temanmu akan sangat menghawatirkan keberadaanmu?” Dalam rasa takutku, timbul rasa kepenasaranan yang akhirnya membuatku bertanya kembali.

“Persetan dengan mereka semua. Aku tidak pernah mempercayai siapapun di dunia ini. Bahkan Tuhan sekalipun, aku tidak mempercayainya”

“Kamu atheis…?”

“Ya. Aku Atheis semenjak Tuhan merenggut mimpi, harapan dan cinta yang pernah aku miliki.”

“Kamu sungguh sangat berlebihan. Tuhan melakukan itu karena dia cinta sama kamu. Dia ingin kamu menjadi manusia yang lebih baik diantara manusia lainya.”

“Kamu munafik.”

Aku tersentak mendengar pernyataanya tentangku. Ada apa dengan orang ini sebenarnya. Aku pasrah jika dia jin yang sedang menyamar menyerupai aku untuk bisa memakanku. Aku yakin Tuhan akan menolongku.

“Kamu tahu sejarah rumah ini?” tiba-tiba dia memecah lamunan sesaatku.

“Bagaimana aku bisa tahu, aku ke tempat ini saja baru pertama kali. Dan itu pun tersesat.”

“Harusnya kamu tahu dan lebih mengetahuinya dari pada aku.”

Aku terbengong-bengong. Mana mungkin aku tahu sejarah rumah yang baru pertama kali aku injak. Setiap kata yang keluar dari mulutnya makin susah di cerna. Banyak pertanyaan yang berputar-putar di otaku. Tapi mulut ini enggan mengungkapkanya.

“Rumah ini bukanlah rumah tua. Hanya saja rumah ini dibangun dengan pondasi kebencian dan berdindingkan dendam. Tak ada satu penyusun pun dalam bangunan ini bermaterialkan cinta dan kasih sayang. Itulah yang menyebabkan rumah ini terlihat begitu gelap, kotor dan kumuh. Keberadaanku di sini adalah untuk memeliharanya. Memelihara kebencian dan dendam itu. Sebelumnya aku juga telah mengetahui kalau kamu akan berkunjung ke sini. Aku telah menunggu saat-saat seperti ini sudah sejak lama.”

Penjelasaan anak itu semakin membuatku tak mengerti.

“Zaenudin Bangun Setiawan, apakah kamu belum juga bisa mengerti? Kamu adalah aku dan aku adalah kamu.”

“Apa maksud perkataanmu barusan.”

“Rasa sakit yang kamu terima akibat perasaan merasa diabaikan oleh Ayahmu, rasa sakit akibat kekecewaanmu terhadap Ayahmu, dan rasa sakit akibat perceraian kedua orang tuamu membuatku ada di sini. Di dadamu. Aku adalah bayangan kelam dirimu. Yang tanpa sadar kamu telah ciptakan. Rumah ini adalah salah satu sudut hatimu yang kelam. Dan aku adalah penghuninya.”

“Tidak, bohong. Kamu dusta. Katakan padaku siapa sebenarnya kamu ini? Apa yang kamu mau dari diriku? Jangan coba bermain-main denganku. Kalau tidak…”

“Kalau tidak, apa? Kamu takan bisa melakukan apa-apa. Kamu itu lemah. Ayahmu sendiri menganggap kamu banci. Hahahaha”

“Hentikan ucapanmu. Dasar setan kau.”

“Aku memang setan, setan yang kamu ciptakan dan kamu pelihara.”

Aku berjalan mundur menjauhinya. Aku terkulai lemas. Terduduk tanpa tenaga. Kata-katanya membuatku sakit. Aku menyesal telah menyapanya tadi. Dasar sialan. Lantas aku pun berteriak berharap semuanya berhenti. Dia tertawa semakin kencang dalam duduknya. Sekarang dia mencolek darah yang mengalir dari kakinya. Kemudian mengemut jarinya. Aku mual melihatnya. Aku muak dengan tingkah lakunya. Dia melecehkanku. Tiba-tiba air mataku menetes. Aku tak kuasa menahanya lagi.

“Dasar cengeng, hahahaha…” dia mengejeku.

Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya. Berjalan gontai ke arahku. Sorot matanya, senyumanya membuat aku takut. Kini dia telah berada di sisiku. Dia duduk tepat merapat dengan tubuhku. Di meniupkan nafasnya ke muka ku. Tangan kananya merangkul pundaku. Tangan kirinya membelai rambutku. Sambil menjilati kupingku. Aku benar-benar takut di buatnya. Tetapi badanku terasa sangat lemah. Hingga aku tak mampu bergerak sedikitpun. Kini tangan kiri yang tadi ia gunakan untuk membelaiku, sekarang ia menggunakanya untuk mencolek darah yang masih keluar dari ujung kakinya akibat gigitan tikus tadi. Kemudian mengoleskanya ke bibirku. Tubuhku gemetar. Dia berbisik “Apakah kamu takut? Kenapa kamu harus takut pada ku? Aku adalah kamu. Sudah, hentikan tangisannya, aku tak suka jika harus melihat air mata. Itu hanya akan membuatmu semakin terlihat menyedihkan. Zaenudin ku sayang, kita hidup berdampingan dalam satu tubuh. Aku hanya ingin mengajukan satu permohonan padamu. Izinkan aku mengambil alih tubuhmu. Aku akan menunjukan padamu bagaimana caranya hidup itu. Kamu bisa beristirahat dengan tenang dan damai selama aku menggendalikan tubuhmu.”

Tiba-tiba dia menghilang entah kemana. Seketika itu kepalaku mendadak pusing. Tubuhku semakin lemas. Dan… aku tak kuat lagi.


Aku terbangun dalam keadaan tubuh penuh keringat. Akhirnya, tiba saat di mana aku mengambil alih tubuh ini dari Zaenudin. Menurutku dia sudah tak layak lagi mengendalikan tubuh ini. dia terlalu lemah. Dia terlalu rapuh. Dia seharusnya mati saja. Karena aku… Aku lebih pantas mengendalikan tubuh ini. aku aka tunjukan pada mereka, manusia. Bahwa dendam dan kebencian mampu merubah seseorang menjadi kuat. Bahkan berkali-kali lebih kuat.

Sambut kelahiranku wahai dunia. Dengan auman tangismu. Berhati-hatilah, karena aku akan menebarkan virus benci. Hahaha

Epilog :

Zaenudin mengalami koma setelah kecelakaan mobil yang menimpanya. Dalam komanya Zaenudin bertemu dan berdialog dengan seorang yang bernama Satrio Abimanya yang ternyata adalah sisi gelap dirinya. Zaenudin masih tetap koma walau tubuhnya sudah tidak koma lagi. Tubuhnya kini di kendalikan oleh sisi gelap dirinya. Satrio Abimanyu bukanlah sosok yang biasa-biasa saja. Dia mampu memanipulasi diri dengan hampir sempurna. Menipu orang-orang dengan bertingkah laku seperti Zaenudin. Tetapi di waktu-waktu tertentu, dia pun tampil sebagai dirinya sendiri. Sosok yang apa bila kita lihat matanya, maka kehampaan yang akan kita dapat. Dia adalah manusia pengutuk kehidupan. Jangan sekali-kali mendekati apalagi berkawan denganya. Jika tidak cukup memiliki benteng iman yang kuat, maka kalian akan tersesat. Berhati-hatilah denganya. Dia setan yang bersembunyi di dalam kepolosan.

By: Kang Zaen

Di Kontrakan Mungil, 2011.

Di Edit 13 Agustus 2013, 12.01 WITA, di Ruangan Administrasi Umum.

Cerpen Karangan: Kang Zaen

Facebook: zaenudin_setiawan[-at-]yahoo.com

Nama saya Zaenudin Bangun Setiawan. Lahir di Subang 03 Januari 1991 dari rahim seorang ibu bersuku Jawa dan ayah bersuku sunda. Saya adalah anak broken home tetapi menjadi broken home bukan alasan bagi saya tuk terpuruk. Sebenarnya saya bukanlah seorang penulis, saya hanyalah seorang pembaca yang kadang menulis.

Ini merupakan cerita pendek karangan Kang Zaen, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Kang Zaen untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis yang telah di terbitkan di cerpenmu, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!

Cerpen ini lolos moderasi pada: 23 September, 2013

“Sial!” Umpat Ray ketika memasuki ruangannya.

“Kita sudah mengetatkan penjagaan, tapi dia masih berhasil menemukan titik lemah para penjaga dan melarikan diri” Jelas lelaki lain yang berjalan di belakang Ray.

Sekilas Ray mengernyit. Lalu menghentikan langkahnya, berbalik menatap lelaki itu. Garis-garis kelelahan terpancar jelas di wajahnya. “Lebih baik kau pulang dan beristirahat, Rian!”

Rian menatap atasannya itu dengan bingung. Istirahat dalam kondisi seperti ini?

“Kesehatan dan kebugaran tubuh sangat dibutuhkan saat ini, jangan sampai kau sakit karena kelelahan” Tambah Ray sambil menyandar pada tepian mejanya.

“Tapi bagaimana jika malam ini dia berhasil menghilangkan jejak? Keluar negeri, misalnya?”

Senyuman tipis terukir di bibir Ray. “Mungkin malam ini dia sedang sibuk menyamar atau mungkin dia sudah dalam perjalanan ke bandara… atau bisa jadi dia sudah di dalam pesawat”

Rian mendengar nada kekecewaan dari serangkaian kata yang dilontarkan Ray, tapi ia yakin atasannya itu tidak akan lari dari tanggung jawab dan akan segera menyelesaikan kasus ini. “Anda juga terlihat sangat lelah, Inspektur” Ucap Rian, mengingat begitu banyaknya tanggung jawab yang telah ditanggung Ray.

“Ya, kau benar! Kasus sialan ini sangat menguras tenaga dan otakku” Lelaki itu terkekeh pelan “Lebih baik kita sedikit beristirahat malam ini”

“Baik!” Rian sedikit menundukkan kepala lalu melangkah keluar.

Ray menghempaskan tubuh ke kursi kerjanya. Sejenak ia memutar kepala pelan untuk meregangkan otot-otot lehernya yang terasa sangat tegang. Entahlah, ia merasa seperti ada yang ganjal dari kasus ini. Seperti ada motif tersembunyi di dalamnya.

Perhatiannya kini beralih ke komputer kerjanya. Berusaha mencari informasi untuk membuktikan kebenaran yang sebenarnya. Setelah beberapa lama fokus dengan benda itu, ada satu berita yang menarik perhatiannya. Bahkan berita itu sudah sangat lama, sekitar 7 tahun yang lalu.

Refleks matanya melebar setelah membaca berita itu. Ternyata kecurigaannya selama ini benar, tapi ada satu fakta yang sangat mengejutkan lelaki itu. Fakta yang mengarah pada motif tersembunyi dari kasus ini. Dan, Ray tersadar …

“Ini sebuah jebakan!”

Lalu lelaki itu memundurkan tubuhnya sampai menempel pada sandaran kursi. Hembusan berat keluar dari bibirnya. Fakta yang barusan di ketahuinya membuat kasus ini semakin rumit. Ia harus segera menemukan cara untuk mengungkapkan semuanya.

Ray menengadah menatap lampu yang menempel di langit-langit ruangan. Mata tajamnya terus menatap lampu tersebut, berusaha memfokuskan pikiran pada satu titik pusat. Tapi sepasang mata itu perlahan terpejam, terlalu lelah untuk tetap bekerja.


Gadis itu memeluk dirinya sendiri, berharap bisa mendapat kehangatan. Ia meraih selembar foto dari saku belakang celananya. Foto seorang lelaki dengan setelan jas lengkap, senyuman lebar terukir di bibir tipisnya. Warna rambutnya tak lagi hitam keseluruhan, meski usia mencapai setengah abad tapi tak mengurangi ketampanan lelaki itu. Wajahnya yang tenang, membuat setiap orang tak pernah bosan untuk memandangnya.

“Semoga suatu hari nanti aku bisa tersenyum tulus sepertimu, Ayah”


“Kami sudah melakukan pengecekan ke bandara pagi ini tapi tidak ada yang mencurigakan, Inspektur” Lapor Rian

“Apa ada tanda-tanda dia masih di kota ini? Di negara ini?” tanya lelaki lain yang duduk di hadapan Ray

“Kami masih belum menemukan apapun” Jawab Rian lesu

“Dia benar-benar tidak bisa diremehkan!” Ray melipat kedua tangannya di atas dada

“Ya, aku salah selama ini karena menganggapnya enteng” Lelaki lain itu tertawa “Dan aku berani bertaruh, Inspektur kita ini pasti tidak tidur semalaman karena sibuk berpikir”

Ray tersenyum tipis “Dan kau termakan taruhanmu sendiri, Emil! Semalam aku tertidur di ruanganku”

“Benarkah? Apakah kasus pencurian ini membuatmu gila, Inspektur?” Pancing Emil, lalu lelaki itu meraih gelasnya dan meneguknya cepat.

“Bukan kasusnya yang membuatku gila, tapi pelakunya”

Emil tertawa mendengarnya. Ray dan Rian saling melempar pandangan, apa yang lucu?

“Mengapa kau tertawa?” Ray mengerutkan keningnya

Emil menyandarkan tubuhnya. “Aku mencium sesuatu yang tidak beres”

“Sesuatu yang tidak beres?” Rian mengulang perkataan Emil dengan nada yang berbeda

Tiba-tiba handphone Rian berdering, menandakan sebuah panggilan masuk. “Ya?…” Dan dalam hitungan detik lelaki itu langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia menatap Ray dan Emil bergantian. “Dia masih di kota ini!”

Tanpa sadar mata Ray melebar. Lalu lelaki itu tersenyum penuh kemenangan “Aku akan menangkapnya dengan tanganku sendiri!”


“Ku harap kau bisa menjaga dirimu, Laura” Ucap seseorang dari seberang

Laura memindahkan gagang telepon ke telinga kirinya. “Pasti. Kau tak perlu mengkhawatirkan aku”

“Maaf, karena menempatkanmu pada posisi ini”

“Kau tak perlu merasa bersalah, aku tidak keberatan sama sekali. Kau juga harus menjaga dirimu baik-baik” Laura dapat merasakan kegelisahan lawan bicaranya itu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghempaskannya perlahan. “Kau tak perlu khawatir, Kakak!” Ucapnya mengakhiri.

Setelah meletakkan gagang telepon, Laura melihat beberapa orang sedang mengantre di belakangnya. Rasa takut yang teramat besar menyelimutinya. Gadis itu memejamkan matanya sejenak, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.

Setelah mengumpulkan keyakinan, Laura membetulkan letak kacamatanya, menaikkan resleting jaket tebalnya dan sedikit merapikan rambutnya yang telah dipotongnya semalam. Tanpa berpikir lagi, ia melangkah menjauhi telepon umum itu.

Buronan? Siapa yang menyangka dirinya akan menjadi buronan seperti ini? Laura telah bertekad atas nama Ayah dan keluarganya, walaupun ia tahu Almarhum Ayahnya pasti sangat tidak menyukai perbuatannya ini. Tapi semua telah terlanjur, Laura telah melakukannya dan sekarang ia harus menanggung akibatnya.

Ia terus berjalan menelusuri jalanan dengan penyamaran seadanya. Beberapa kali ia menoleh ke belakang, meyakinkan bahwa tidak ada yang membuntutinya.

“Nona, kau tak ingin membeli surat kabar hari ini?” Seorang lelaki tua menawarkan jualannya pada Laura. “Berita terpanas hari ini, seorang buronan polisi berhasil melarikan diri. Anda harus membaca dan mengenali wajah buronan itu, jika suatu saat anda melihatnya anda bisa segera melapor”

Laura meraih surat kabar itu. Dan yang benar saja, foto buronan itu terpampang sangat besar dan jelas di halaman pertama, dengan judul berita yang tak kalah besarnya. Gadis itu mendengus. Bagus! Dalam semalam wartawan-wartawan tak tahu diri itu telah mengetahui aksi kaburnya. Dan ini berarti semua orang telah mengetahui wajahnya. Ia harus lebih berhati-hati.

“Aku sudah menghafal wajah buronan itu, terima kasih!” Laura mengembalikan surat kabar itu, lalu melanjutkan langkahnya.

Beberapa pikiran memenuhi otak Laura. Ia harus keluar dari negara ini. Kalau perlu, ia harus keluar dari benua ini. Laura membulatkan keinginannya dan berniat untuk memberitahukan rencana itu ke Kakaknya. Sebelum semua terlambat.

Tapi ia harus tetap bersikap normal. Jangan sampai ada yang mencurigai ataupun mengenalinya. Dengan langkah tenang, Laura terus berjalan. Tapi ketenangan itu tak berlangsung lama sampai beberapa menit kemudian terdengar sirine mobil polisi.

Gawat!!


Di dalam mobil, tak henti-hentinya Ray melihat jendela. Matanya menelusuri setiap jalanan yang dilewatinya.

“Apa yang akan kau lakukan jika menemukannya?” Tanya Emil memecahkan keheningan.

“Aku akan memberinya peringatan agar tidak melarikan diri lagi” Ray meyipitkan matanya, berusaha mencari buronan itu di antara kerumunan.

“Peringatan? Sebuah tembakan?”

“Entahlah, mungkin”

“Kau yakin? Dia seorang perempuan, Ray” Balas Emil mengingatkan

Ray mengalihkan pandangannya ke lelaki di sebelahnya itu. “Lalu kenapa? Aku tidak akan pandang bulu”

“Aku tahu, tapi apakah kau tega menembak seorang perempuan?”

“Dia sudah mempermainkan kita semua, dan secara pribadi aku merasa harga diriku sebagai polisi telah dilecehkan” Ray menatap Emil tajam

“Baiklah, tapi aku tidak yakin kau akan melukainya.” Emil mengalihkan pandangan menghadap jendela.

Ray hanya diam. Matanya masih menatap Emil, meskipun lelaki itu kini setengah membelakanginya. Apakah yang dikatakan Emil benar? Jauh dalam dirinya sama sekali tidak ada keinginan untuk melukai perempuan manapun, apalagi menembaknya.

Tidak! Dia pengecualian. Gadis itu telah mempermainkannya dan secara tidak langsung juga merendahkannya. ‘Lihat saja nanti’ Batin Ray

“Jalanan ini sangat ramai, Inspektur, mungkin kita bisa berhenti di sini” Ucap polisi yang duduk di bangku kemudi

“Ya, kita berhenti di sini!” Jawab Ray. Tanpa diminta lelaki itu langsung keluar mobil ketika mobil yang ditumpangi berhenti.

Ray berdiri di antara beberapa mobil polisi lainnya. “Cepat berpencar! Temukan dia!” Teriaknya.

“Emil, kau ikut denganku!” Tambah Ray

“Baik!”

Mereka berlari menembus keramaian. Beberapa orang tampak ketakutan dan menjauh. Beberapa ada juga yang tak menghiraukan. Bahkan ada juga yang mengabadikan kejadian ini dengan kamera.

“Pak polisi, saya tau kemana buronan itu” Ucap seorang lelaki tua

Mereka menghentikan langkah. Ray menatap lelaki tua itu, satu dugaan langsung terlintas di otaknya. Lelaki itu penjual koran.

“Dia tadi sempat memegang salah satu koran yang saya jual, dia menyamar dengan memakai kacamata dan jaket tebal berwarna cokelat tua. Serta dia memotong rambutnya sependek ini” Jelas lelaki tua itu sambil menggerakan tangannya di bawah telinga, untuk menjelaskan potongan rambut buronan itu.

“Ke arah mana dia sekarang?”

“Dia ke arah barat”

“Terimakasih”

Mereka langsung berlari ke arah yang ditujukan lelaki tua tadi. Tapi setelah lari beberapa meter, langkah mereka terhenti. Menyadari tempat apa yang ada di depannya saat ini.

“Kau yakin lelaki penjual koran itu tidak berbohong?” Emil menatap Ray ragu

“Entahlah, tapi sepertinya dia berkata jujur. Aku menatap matanya cukup lama saat dia menjelaskan” Ray mengedarkan pandangan.

“Tapi ini makam, Ray! Lebih baik kita kembali”

Ray berjalan tanpa menghiraukan Emil. Memasuki area pemakaman itu. Untuk kesekian kalinya lelaki itu mengedarkan pandangan. Dan matanya menangkap bayangan itu!

Gadis itu ada di sana!


Laura mempercepat langkahnya. Hanya satu tempat yang terbesit di pikirannya.

Di sinilah ia sekarang. Makam ayahnya. Laura terduduk di samping gundukan tanah dengan sebuah batu di salah satu ujungnya. Di batu itu tertuliskan sebuah nama. Herman Hernandez.

“Maafkan aku, Ayah! Aku tahu ini semua salah” Tangis gadis itu. Tangannya mengusap lembut batu nisan ayahnya. “Aku hanya ingin membalas perbuatan pengusaha China itu. Gara-gara dia, hidup kita berantakan. Dia juga yang menyebabkan kematianmu, Ayah! Kuharap kau mengerti dan memaklumi perbuatan tidak terpujiku…..”

“Kau harus menyerah, Laura Hernandez!!”

Laura terlonjak kaget mendengarnya. Spontan, ia menoleh ke belakang. Seorang polisi sedang mengarahkan pistol ke arahnya.

“Kau harus menyerah!” Ulang Ray sambil melangkah mendekat

“Stop! Diam disitu!” Teriak Laura sambil menutup kedua telinganya. “Kumohon, jangan menembakku” Tangisnya

“Kau tidak seharusnya melarikan diri, Laura! Kau telah bermain-main denganku dan kau akan menyesalinya!” Ray tetap mendekati Laura dan semakin mengarahkan pistolnya ke gadis itu.

“Tidak akan kubiarkan kau menembaknya!” Teriak seseorang dari belakang

Ray tersenyum getir. “Kau benar-benar pengkhianat Emilio Hernandez!” Ucapnya tanpa berbalik

“Kau sudah mengetahui nama lengkapku ya, Inspektur? Ternyata kau sudah mencurigaiku dari awal” Emil berdiri tepat di belakang Ray, lalu menempelkan ujung pistolnya ke kepala Inspekturnya itu.

“Tentu saja aku tidak sebodoh yang kau kira, kau pikir bagaimana caranya adik perempuanmu ini bisa kabur tanpa ada campur tangan darimu? Kau yang membantunya melarikan diri” Jawab Ray tenang

“Kau sungguh berhasil menyembunyikan ketakutanmu, Ray! Ingat, aku bisa kapan saja membuat kepalamu hancur!” Ancam Emil sambil menekankan pistolnya ke rambut Ray

“Dan kau juga harus ingat, aku bisa kapan saja menembak adik perempuanmu ini”

“Cukup! Jangan membunuh orang di depan makam Ayah, Kakak” Ucap Laura yang sedari tadi hanya diam

“Biarkan Laura! Inspektur ini tidak mengetahui betapa menderitanya kita selama ini” Emil tersenyum licik. “Apakah kau tau rasanya menderita, Inspektur? Apakah kau tau rasanya?!” Teriak lelaki itu

“Benar, aku memang tidak mengetahui rasanya. Tapi seberapa besar aku menderita, aku tidak akan pernah mengorbankan adikku sendiri!” Balas Ray dengan nada merendahkan

“A..apa maksudmu?” Laura mengerutkan keningnya “Kakakku tidak pernah mengorbankan siapa pun. Aku mencuri brankas pengusaha China itu karena dia telah menghancurkan perusahaan keluargaku!”

“Ya, aku tahu itu. Tuan Chen telah menipu keluarga kalian habis-habisan. Bahkan kukira kalian akan berencana membunuhnya, tapi ternyata kalian hanya mencuri hartanya” Lagi-lagi nada merendahkan keluar dari bibir Ray

“Aku juga ingin membunuhnya, tapi… aku tak mempunyai cukup keberanian untuk melakukan itu” Laura tertunduk, merasa sangat lemah.

“Tentu saja kau tidak mempunyai nyali untuk itu, tapi kenapa tidak Kakakmu saja yang melakukannya?” Kali ini senyuman merendahkan yang terukir di bibir Ray

“Oh, ternyata kau mencoba mengadu domba kami? Kau pikir adikku terpengaruh olehmu?” Emil semakin menekankan pistolnya, hingga menyentuh kulit kepala Ray. “Kau akan mati di tanganku!”

Dengan cekatan Ray menarik tangan Emil dan diputarnya tangan itu ke belakang. Tampak wajah Emil yang meringis kesakitan, sehingga pistol di tangannya terjatuh. Kali ini posisi telah berbalik. Ray berdiri di belakang Emil dengan menahan kedua tangan lelaki itu.

Laura hanya bisa memekik saat melihat adegan itu. Sekarang nyawa Kakaknya yang terancam!

“Kau yang akan mati di tanganku!” Bisik Ray tepat di telinga Emil

Emil berusaha memberontak tapi usahanya sia-sia, Ray menahan tangannya sangat kuat. “Lepaskan aku!”

Tanpa menggubris Emil, Ray mengeluarkan borgol dan memborgol kedua tangan lelaki itu di belakang tubuhnya. Lalu didorong tubuh Emil sampai terduduk di hadapan Laura. Ray mengambil pistol Emil yang tergeletak di

tanah. “Kau tidak lebih dari seorang pengecut! Kau rela mengorbankan adikmu hanya karena keegoisanmu!!”

“Kau tahu banyak tentang aku, ya?” Emil tersenyum kecut

Ray mengarahkan pistolnya ke kepala Emil. “Ya! Dan aku juga mengetahui bahwa tujuanmu sebenarnya bukanlah Tuan Chen!”

Laura menatap dua lelaki itu dengan bingung. “Apa maksudmu? Jelas kami ingin membalas dendam ke pengusaha China itu”

“Kau terlalu bodoh, Laura!”

Laura terkejut. Emil mengatai dirinya bodoh?

“Dia membalas dendam kepada keluargamu, Laura. Dia membalas dendam kepada keluarga Hernandez karena telah mencampakkannya” Ray melirik Laura sekilas

“Mencampakkannya? Apa maksudmu? Jangan memfitnah kakakku!”

“Dia benar Laura, sebenarnya namaku sudah dicoret dari daftar keluarga” Senyuman kecut masih menghiasi bibir Emil “Karena aku telah membunuh Kakek”

Mata Laura melebar. Tubuhnya menegang dan jantungnya berdetak kencang. Ini kenyataan baru baginya.

“Saat itu kau masih sekolah di luar negeri, karena itu kau tidak mengetahui apapun.” Emil menatap Laura tajam “Dan ketika kau kembali, aku sudah pindah ke kota lain”

“Kau membunuh kakek? Tapi apa salah kakek?” Air mata mengalir deras di pipi Laura. Masih sulit baginya menerima kenyataan ini.

Emil mendecak pelan. “Kau sungguh bodoh! Asal kau tahu, Kakek mewariskan perusahaannya kepadamu, bukan kepadaku! Bukankah itu hal yang sangat tidak adil? Padahal aku adalah cucu laki-lakinya!” Ia tertawa ringan “Dan perlu kau tahu, aku yang merencanakan semuanya dari awal. Termasuk penipuan pengusaha China itu. Aku sengaja membuat keluargamu menderita!” Emil berhenti sejenak “Ah ya, kau juga harus tahu kalau aku yang membunuh Ayah karena ia akan menceritakan semuanya kepadamu, ia tidak suka melihat kedekatan kita. Tapi ternyata tak kusangka otakmu sangat gampang dicuci”

“Kau membunuh semuanya?” Laura merasakan tubuhnya gemetaran. Ia sama sekali tidak mengenal lelaki di depannya itu. Lelaki itu bukan Emil, kakak yang sangat menyayanginya.

Kabut kebencian terlihat jelas di mata Emil. “Ya! Tapi kematian Ibu di luar kehendakku, Ibu meninggal sebelum aku membunuhnya” Lelaki itu semakin menajamkan tatapannya kepada Laura “Dan aku berencana membuatmu mati mendekam di dalam penjara!”

“Dan satu hal lagi, alasan pengecut ini menjadi polisi adalah untuk mengamankan dirinya sendiri, sehingga tidak akan ada yang mencurigainya” Ray menatap Emil jijik

Laura sangat tidak mempercayainya. Ternyata selama ini ia dijebak. Dan dengan senang hati ia masuk kejebakan Emil. “Kau benar-benar bukan manusia!” Teriak Laura

“Sekarang siapa yang tidak memiliki hati nurani, Emil?”

“Berhenti merendahkanku, Ray! Kau menghancurkan rencanaku! Tidak akan kubiarkan kau hidup tenang!” Emil memberontak dan berteriak ke arah Ray

“Sebelum kau melakukannya, aku yang akan membuatmu menderita terlebih dulu” Ray tersenyum sinis

“Aku tahu kau ingin melindungi Laura dariku” Emil melirik Laura yang masih terisak-isak. “Karena kau mencintai adikku yang bodoh ini kan?!”

Ray menembakkan pistolnya ke udara. “Aku tidak akan membuatmu mati dengan mudah” Ucapnya

Tak lama segerombolan polisi datang berlarian. Para polisi itu langsung mendekati mereka. Sontak para polisi itu terkejut melihat apa yang ada di hadapannya.

“Inspektur, ada apa ini?” Tanya Rian yang berdiri di antara gerombolan polisi itu

“Bawa dia! Biarkan dia yang menjelaskan sendiri!” Jawab Ray.

Para polisi itu langsung menggiring Emil, meskipun beribu pertanyaan masih memenuhi benak mereka masing-masing.

“Kau baik-baik saja, Laura?” Ray berjalan mendekati Laura.

Laura masih terduduk. Semua ini tidak masuk akal baginya. Air mata masih belum berhenti mengalir di pipi gadis itu.

Ray menekuk kedua lututnya, berusaha menyamai gadis di sampingnya. “Kau tak perlu takut, aku selalu di pihakmu” Ia menyentuh lembut bahu Laura

Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap Ray ragu. “Kau yakin?”

Ray mengangguk mantap tanpa mengeluarkan suara. Dan dalam detik yang sama, lengannya merengkuh tubuh Laura. Menenggelamkan tubuh gadis itu dalam pelukannya. “Sangat yakin, Laura”

Cerpen Karangan: Ifarifah

Blog: www.ifarifah.blogspot.com

Ini merupakan cerita pendek karangan Ifarifah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Ifarifah untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis yang telah di terbitkan di cerpenmu, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!

Cerpen ini lolos moderasi pada: 25 September, 2013

Penderitaan adalah lambang kekuatan jiwa, tak akan aku tukarkan penderitaan ini dengan sukacita manusia. Jiwaku menemukan ketenangan manakala hatiku bersukacita menerima himpitan kesusahan dan kesesakan kehidupan. Hatiku terpenuhi kegembiraan, manakala aku bersukaria dalam derita-Nya. Hanya satu tujuan hidupku, membuat DIA selalu tersenyum di sepanjang kehidupan…

Andi Suryadi

Pagi yang cerah mengiringi hari ini, sinar mentari dengan hangat dan penuh kelembutan meresap dalam setubuh seorang kakek tua, ia begitu menikmati belaian hangat sang mentari. Dalam keterbatasan fisiknya, tak terlihat wajah kelemahan terpancar dari wajahnya. Padahal ia kini hanya dapat terduduk lemah di atas kursi rodanya, kakinya sudah tak dapat lagi menopang tubuhnya. Tangannya tak lagi sekuat dulu, bahkan hanya bagian yang kiri saja yang masih dapat ia gerakkan. Pandangannya telah menjadi kabur di akibatkan penyakit katarak yang kini hinggap. Penyakit sroke yang ia derita telah menyebabkan sebagian tubuhnya tidak dapat digerakkan secara normal. Di tambah dengan penyakit diabetes yang telah lama hinggap di dalam tubuhnya, yang tak kunjung ada kesembuhan.

Sepeninggal istrinya yang begitu menyayangi dan setia menemaninya, kini ia tinggal di sebuah panti jompo. Walaupun ia memiliki tiga orang anak yang terdiri dari dua orang laki-laki dan satu orang perempuan, namun tak seorang pun yang mau merawatnya. Semuanya mundur secara teratur manakala di tunjuk untuk merawatnya, mereka beralasan hanya merepotkan mengurus seorang tua renta yang sakit-sakitan. Oleh sebab itu mereka kemudian mengirim laki-laki tua itu di sebuah panti jompo yang bernama “Panti Kasih Tiada Batas” yang di asuh oleh sepasang keluarga muda yang telah mengabdikan diri sejak sepuluh tahun yang lalu. Panti ini dahulunya adalah rumah tempat tinggal mereka yang asri dan luas. Panti ini terletak di jalan kecil yang bernama Jalan Gotong Royong dengan akses jalan besarnya yaitu jalan Sudirman.

“Selamat pagi pak Andi” sebuah sapaan lembut menyapa kakek tua yang ternyata bernama pak Andi,

“Se..se.lamat pagi, nak Aryo dan nak pipit” Jawabnya dengan nada yang terbata-bata,

“Bagaimana kabarnya pak? Tadi sudah sarapan?” Tanya pipit penuh kelmbutan,

Pak Andi hanya menganggukkan kepalanya,

“Sudah di minum obatnya, pak?” lanjutnya “Jika sudah, sekarang bapak istirahat yah, sebab matahari sudah mulai terik”

“Baik nak Pipit, terimakasih” Pak Andi pun menjawab, dan Pipit kemudian membantunya mendorongkan kursi rodanya menuju ruang paviliun.

Disana ada pula beberapa orang kakek dan nenek tua yang sedang asyik menonton acara televisi, di antaranya pak Muharam, pak Liem, pak Zakaria dan ibu Kulsum serta ibu Yanti. Tampak keceriaan hadir disana, manakala mereka menonton sebuah film komedi yang di bintangi oleh almarhum Benyamin. Pak Andi pun larut dalam keceriaan dan hal itu telah mengobati kerinduan di hatinya yang berharap dapat bersama dengan anak dan cucunya, dalam sisa masa hidupnya.

Sore itu setelah melaksanakan sembahyang, pak Andi duduk di pinggir jendela. Tampak tatapan matanya kosong, ia menerawang alam sekeliling seakan ia mencari sesuatu yang teramat berarti dalam hidupnya. Sesekali terlihat linangan airmata membasahi pipinya dan tarikan nafasnya yang panjang pun terdengar begitu berat… Aku rindu engkau Fiona istriku, aku tahu engkau kini bahagia di surga-Nya. Sungguh Fiona, engkau adalah yang terbaik yang telah Allah anugerahkan dalam hidupku. Kesetiaan dan kasihmu begitu terasa olehku, aku teramat bersyukur telah Allah titipkan engkau dalam kehidupanku. Lihatlah aku sekarang kasihku?, di senja usiaku, kini aku dalam kesunyian, dimanakah mereka buah cinta kita? Hanya engkau yang setia dan mengasihiku apa adanya bukan ada apanya. Sayang, bawalah aku serta di taman surga yang telah Allah berikan kepadamu… ti.. tidak, aku tidak boleh menangisi apa yang telah dan sedang terjadi padaku, engkau kini telah bahagia dan tak selayaknya aku menghancurkan kebahagianmu. Aku tahu engkau pun menantikan kedatanganku… pasti sayang, aku akan datang kepadamu dan kita akan bersama kembali… Fiona sayang, bersabarlah suatu saat nanti aku pasti akan datang menemui engkau dan bahkan engkau yang akan menjemput dan mengahantarku di tanah perhentian… namun, Allah masih memberikan padaku untuk sebuah tugas terakhir sebelum masa waktuku berakhir… dan aku masih belum mengerti dan memahami akan tugas itu.. namun aku akan tetap melakukannya tanpa harus aku memahami… dalam tarikan nafas yang ku hirup, aku masih dapat merasakan cinta dan kasihmu… terimakasih sayang atas semua kasih yang telah engkau curahkan kepadaku, anak-anak dan seluruh keluarga kita… selamat sore Fiona sayang… dan linangan airmatanya semakin deras membasahi pipinya… ia pun terhanyut dalam elegi rindunya…

“Malam pak Andi, bagaimana sudah makan malam?” tanya Aryo,

“Malam nak Aryo, sudah tadi” Jawabnya sambil menganggukkan kepala,

“Sekarang di minum obatnya yah pak” lanjutnya dengan penuh perhatian

Setelah meminum obatnya, pak Andi menarik tangan Aryo, dan berkata,

“Nak Aryo, terimakasih yah atas semuanya. Andai saja putra-putri saya memiliki hati yang penuh perhatian seperti nak Aryo tentunya bahagia sekali hati ini” Katanya sambil mengelus air mata yang mulai berlinang membasahi pipinya,

“Sungguh nak Aryo, saya tidak meminta uang atau pun harta, cukup bagi saya adalah perhatian dan kasih mereka. Dan saya pun masih memiliki sedikit simpanan, sisa setelah saya bagikan harta yang saya punyai kepada mereka. Saya tidak ingin harta mereka… nak Aryo, apa benar saya hanya merepotkan?” tanyanya dengan lirih,

“Tidak pak Andi, sungguh bapak tidak merepotkan. Malah membuat hati kami bahagia dan kami sangat senang apalagi kami masih diberi kesempatan untuk berbagi kasih” Jawab Aryo sambil mengusap airmata yang membasahi pipi pak Andi, lanjutnya,

“Pak, saya dan istri telah di tinggal oleh kedua orangtua kami masing-masing semenjak usia kami masih muda. Dan kami berharap untuk dapat merawat mereka pada masa tuanya, namun Tuhan berkehendak lain. Tetapi kerinduan hati kami terjawab sudah oleh-Nya, dengan merawat bapak dan yang lainnya seakan-akan telah menghadirkan kembali sosok kedua orangtua kami. Bapak jangan banyak memikirkan yang lain yah pak, lebih baik bapak bersukacita dan nikmati sisa hidup ini, kami bangga dapat merawat bapak” Dengan penuh perhatian dan kelembutan Aryo menjawab

“Iya nak Aryo, maaf bapak yang terbawa dalam kerinduan hati… terimakasih banyak nak! Telah menguatkan hati bapak” Pak Andi pun berucap,

“Baiklah pak, sekarang istirahat yah, mari saya bantu ke kasur” Kata Aryo sambil mengulurkan tangannya,

“Tidak usah nak Aryo, saya harus terus belajar untuk dapat mandiri” Kilah pak Andi, dan dengan halus menolak bantuan Aryo,

Dengan agak susah payah ia geser kursi rodanya untuk lebih dekat pada bibir kasur, dan dengan semangat yang tinggi ia berusaha keras merengkuh kasur dan mendorongkan badannya. Dengan usahanya yang keras akhirnya tubuh pak Andi pun dengan lembut mendarat di atas kasur, Aryo yang sedari tadi memperhatikan tersenyum dalam hati ia bergumam “…luarbiasa pak Andi ini, semangat hidupnya begitu tinggi”

“Pak Andi, sekarang tidur yah, saya hendak menengok yang lain. Selamat tidur pak Andi” Ucap Aryo sambil berlalu meninggalkan Pak Andi dalam keheningan malam.

Malam mulai larut, namun tiba-tiba mata Pak Andi terbuka dan ia terbangunkan dari sebuah mimpi… ada apakah ini? pikirnya dalam hati. Ia pun merenungkan dari mimpi yang telah terjadi, dimana dalam mimpinya, ia melihat salah satu cucunya tertabrak kendaraan dan saat itu ia melintas di sekitar tempat kejadian, ia memangku cucunya dan membawanya, namun nyawa cucunya tak tertolong, ia menghebuskan nafasnya yang terakhir dalam pangkuannya. Apakah arti mipiku ini? begitulah pikirannya menerawang. Ia pun lantas berdoa kepada Tuhan memohonkan untuk menjauhkan hal-hal buruk menimpa semua cucu dan anak-anaknya.

Ingatannya membawa kembali pada perlakuan anak-anaknya terhadap dirinya dimana tiga tahun yang lalu sebelum ia terdampar di panti asuhan ini. Ia tinggal di rumah anaknya yang tertua yang adalah seorang pengusaha dan telah di karunia tiga orang anak yang lucu dan manis. Namun hanya karena ia senantiasa menyenggol perabotan hingga suatu ketika sebuah guci kesayangan anaknya, tak sengaja tersenggol dan akhirnya pecah. Dan ia pun masih mengingat bagaimana kata-katanya,

“Pa! tahu ngga berapa harga guci ini? di bayar dengan seluruh uang pensiun papa pun tak akan kebayar, dasar tua bangka! Saya, untuk mendapatkan guci ini saja sangat susah payah, tahu nggak ini barang antik dan langka… seharusnya papa tahu diri! dan lebih hati-hati. Ini, sudah nggak bisa apa-apa masih saja mau keluyuran, kenapa tidak diam saja di kamar?” umpat anaknya,

“Iya nih tua bangka! Kemarin-kemarin gelas kristalku yang berharga jutaan rupiah, kini guci antik yang harganya saja selangit. Papa kan sudah tahu dilarang masuk ruangan keluarga, kenapa bandel juga?” Istri Ardy pun ikut menghardiknya

“Ma…ma..ma.. maafkan papa, Ardy dan Nancy, papa hanya ingin bermain dengan Mitchel. Apakah_” Belum bicaranya selesai, dengan kasarnya Ardy memotong,

“Sudah!… sudah…! Saya tidak mau dengar lagi alasan!… mulai hari ini juga beresin pakaian papa!, Ardy sudah tidak mau melihat papa lagi… tua bangka! Hanya merepotkan saja” Bentaknya sambil mendorong kursi roda ayahnya menuju kamar dan membereskan seluruh pakaian ayahnya.

“Benar Pih! Aku sangat setuju dengan pendapat papi” Nancy pun turut mendukung suaminya

Ia pun membawa ayahnya ke rumah adik nya. Andryansah adalah seorang pengacara yang banyak menangani kasus-kasus korupsi besar dan kasus besar lainnya, namun setelah mendengar apa yang sudah terjadi di rumah kakaknya ia pun dengan keras menolak untuk merawat ayah mereka. Akhirnya mereka menelepon adik mereka yang bungsu, yang di wakili oleh yang sulung.

“Halo…Devi, kamu lagi dimana?” Ardy langsung bertanya,

“Yah halo kak Ardy, ada apa kak?” Devi berkata dan kemudian bertanya,

“Begini, kamu bisa kan datang ke rumah Andry sekarang?” Lanjut Ardy,

“Saya lagi di mall kak! Tapi tidak jauh dari tempat kak Andry, memang ada apa. Sepertinya serius sekali” Devi menjawab sambil mereka-reka

“Pokoknya kamu sekarang kesini, penting!” Perintah Ardy,

“Baik-baik Kak! Saya segera kesana” lanjut Devi dengan sedikit kesal, namun ia menahannya sebab selama ini kedua kakaknya selalu membantu kehidupannya, dimana suaminya hanyalah seorang pegawai biasa yang dapat mencukupi kebiasaannya yang konsumtif.

Sesampainya di tempat Andry, tanpa basa-basi lagi mereka sepakat untuk menyimpan papa mereka di panti asuhan dan untuk biaya selama di sana mereka membebankan kepada papa mereka sendiri. Sisa uang yang ada di tabungan papanya, mereka paksa kepada papanya untuk dikeluarkan dengan alasan untuk biaya berobat. Papanya hanya terdiam dengan perlakuan mereka dan ia hanya dapat menangis di dalam hatinya.

Ahhhh… Aku sudah mengampuni mereka Tuhan… Aku telah mengampuni perlakuan mereka… ampuni mereka Tuhan sebab mereka tidak mengerti… jauhkan padaku untuk ingatan-ingatan seperti ini… Tuhan, Engkau adalah Tuhan yang mahapengampun, ampuni anak-anak hamba-mu ini… perbuatlah apa yang Engkau kehendaki kepada tubuh dan hidup hamba-Mu ini, dan jangan Engkau timpakan kehangatan murka-Mu kepada anak-anakku, cucu-cucuku dan seluruh keluarganya… cukuplah hanya kepada aku, hamba-Mu ini.. ia pun kembali berusaha untuk memejamkan matanya dan berharap sang fajar segera menyapa tubuhnya dengan penuh kelembutan.


Pagi ini tidak seperti biasanya Pak Andi tidak pergi ke halaman belakang untuk berjemur, setelah sarapan pagi ia lebih banyak berdiam diri di kamarnya dengan sesekali berusaha membaca Kitab Suci yang agak samar untuk di baca. Namun ia berusaha keras untuk dapat membacanya, dengan lebih banyak menggunakan mata kirinya yang masih agak sedikit normal, ia terus berupaya dan sesekali terdengar permohonannya kepada Tuhan agar diberikan kemudahan dalam membaca Kitab Suci ini. Di tengah kekhusuannya, terdengar ketukan kecil dan suara dari balik pintu dengan penuh kelembutan,

“Selamat pagi Pak Andi, maaf apabila saya mengganggu sejenak” Ucap sebuah suara dari balik pintu,

Pak Andi pun menghentikan sejenak kegiatannya dan menghampiri suara itu, dan ia pun membuka pintu sambil berkata,

“Selamat pagi, sama sekali tidak mengganggu”

“Eh, nak Pipit dan nak Aryo, silahkan masuk? lanjutnya, mempersilakan masuk

“Terimakasih pak Andi” Jawab Aryo “Oh, yah pak, kenalkan ini adalah Dokter Agung dokter spesialis bedah, yang bertugas di rumah sakit terkenal di kota ini” yang kemudian memperkenalkan seseorang kepada pak Andi,

Pak Andi nampak kebingungan dan ini trelihat dari lipatan yang nampak di dahinya. Dalam hatinya bertanya, “…apakah aku hendak dioperasi, tapi apanya yang di operasi?…” Belum hilang rasa bingungnya, pria yang bernama Agung itu kemudian menghampiri pak Andi. Dengan berjongkok ia raih tangan kiri pak Andi dan menempelkannya di dahinya, seraya berkata,

“Pak, saya Agung… mudah-mudahan bapak masih dapat mengingat akan saya, dulu sewaktu saya masih kecil pernah di tolong oleh bapak”

“…” Bertambah bingung lah pak Andi setelah mendengar ucapan itu kemudian ia pun mencari-cari dalam memori ingatannya, tentang siapakah gerangan orang yang berada dihadapannya ini.

“Maaf nak, siapa tadi?”

“Saya Agung, pak Andi”

“Agung… Agung… yang mana yah… dan yang pernah saya tolong? Dimana dan kapan?… maaf nak Agung, sungguh saya tak dapat mengingatnya karena, saya tidak pernah mau mengingat apa, dimana dan siapa yang telah saya tolong dalam kehidupan saya”

“Maaf pak Andi, mungkin bapak akan mengingatnya manakala dulu di depan Statsiun Kereta Api tepatnya di kedai bu Wanti. Setiap makan siang bapak selalu menyemirkan sepatu bapak kepada seorang anak kecil, walaupun sepatu bapak masih bersih, masih saja bapak menginginkan anak itu untuk membersihkan sepatu bapak. Selain memberi uang jasa yang sungguh pak! lebih dari tarip, bapak juga memberikan anak itu makan siang gratis” kembali Agung berkata sambil memceritakan sebuah kisah sebagai sarana untuk membantu ingatan pak Andi.

“Kedai Ibu Wanti… depan statsiun… anak kecil… anak kecil… anak kecil… tan… tan… iya.. ya.. saya ingat sekarang, anak kecil yang mempunyai tanda kecoklatan dan bintik hitam di tangan kirinya… ya.. ya… yang selalu ia sembunyikan dibalik bajunya… dimana ia sekarang?” Dengan penuh sukacita pak Andi akhirnya dapat mengingat kembali dan menanyakan perihal keberadaan anak tersebut,

”Pak… sayalah anak itu… dan ini lihat…” Jawab Agung sambil memperlihatkan tanda di lengan kirinya kepada pak Andi, setelah melihat tanda itu pak Andi menangis dengan terharunya, dan…

“Ka… kamu… Anak yang dulu… Oh.. Tuhan, sungguh luar biasa! karya-Mu, Engkau penuh dengan keajaiban telah mempertemukan kami kembali… Nak, bolehkah bapak memeluk kamu?”

“Dengan senang hati pak” jawab Agung, lantas mereka pun berpelukan dan terasa sekali aroma kerinduan terobati disana.

“Nak, bagaimana ceritanya hingga dapat menemukan bapak disini?” Tanya pak Andi,

“Pak Andi, mohon maaf sebelumnya bolehkah saya memanggil bapak dengan sebutan ayah?” pintanya

“Boleh nak, dengan senang hati apabila itu membuat hatimu nyaman” Jawab pak Andi,

“Terimakasih ayah, lima belas tahun yang lalu saat itu saya sudah putus sekolah dan kehidupan kami sangat susah. Ayah telah meninggalkan kami saat aku masih berumur tujuh tahun, kemudian tinggalah saya dengan ibu yang waktu itu bekerja sebagai buruh cuci dan bersih-bersih rumah. Sampai saya duduk di bangku kelas lima sekolah dasar saya masih dapat bersekolah, namun saat saya duduk di kelas enam sekolah dasar, ibu sakit-sakitan sehingga tidak dapat bekerja lagi, ibu terkena TBC. Dan saya memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu ibu mencari nafkah dengan menjadi tukang semir, yang akhirnya membawa saya bertemu dengan ayah yang baik ini” Sesaat Agung menghentikan kisahnya untuk mngusap air mata yang menetes di pipinya,

“Dari beberapa kali pertemuan, suatu saat ayah menanyakan tentang sekolah dan cita-citaku, aku jawab aku telah putus sekolah dan bercita-cita untuk menjadi seorang dokter bedah, agar dapat mengoperasi penyakit ibu dan menyembuhkan penyakitnya. Dan ayah juga memperhatikan perilaku saya yang selalu menyembunyikan tangan kiri, saya waktu itu menolak dikarenakan malu, setelah ayah melihatnya, ayah bilang jangan malu nak! Tanda yang ada di tanganmu adalah tanda dari Allah yang telah menetapkan lewat tanganmu banyak orang yang akan engkau selamatkan. Sungguh! Ayah kata-kata itu adalah doa bagi saya dan yang telah membangkitkan semangat untuk giat belajar. Dan diluar dugaanku, ayah pun dengan sukarela mau menjadi ayah angkatku. Bahkan ayah pula yang membawa ibu berobat hingga ibu mendapatkan bantuan pengobatan gratis dari suatu yayasan yang ayah kenal. Terimakasih ayah, atas semua budi baikmu yang tak ternilai oleh harta bahkan nyawa sekalipun, aku dapat menjadi seperti semua bukan karena kepintaran dan kerja keras ku, namun semua berkat jasa dan doa dari ayah” Kembali ia mengusap airmatanya,

“Ayah, tiga tahun yang lalu, saat saya ada seminar di kota ini, saya mencari-cari akan keberadaan ayah. Saya menanyakan ke tempat dulu ayah bekerja, dan mereka katakan jikalau ayah sempat dipindahkan ke beberapa kota, lalu mereka menyarankan agar mencari data-data tentang ayah di sekertariat pensiunan. Dan saya pun meminta alamatnya lalu saya melanjutkan pencarian tentang ayah ke kantor sekertariat. Dari sanalah saya temukan alamat ayah, namun sayang ternyata rumah ayah telah di jual dan pemilik yang baru tidak mengetahui akan keberadaan ayah. Hampir-hampir saya putus asa di buatnya, namun perjuangan saya akhirnya membuahkan hasil juga, ini semua berkat pertolongan Allah, seminggu yang lalu, Andi anak kami yang baru berumur lima tahun. Di tengah malam terbangun dan ia menangis, herannya ia mengatakan kepada kami bertemu seorang kakek duduk di kursi roda dan memangkunya serta berkata ini aku kakekmu. Setelah kejadian itu ia senatiasa meminta kami untuk menemui kakeknya, kami ajak untuk menemui ayah mertua saya, dia bilang bukan kakek yang ini, ia bilang kakek Andi. Saya tidak menyadari pada saat itu, jika yang dikatakan anak kami adalah kakek yang namanya Andi, setelah saya renungkan akhirnya menemukan jawabannya bahwa kakek yang dimaksud anak kami adalah ayah. Saya pun mencari kembali ke kantor pensiunan ayah dan melacak dari beberapa data mungkin ayah dirawat di sebuah rumah sakit. Jika berdasarkan dari mimpi anak kami yang mengatakan ayah duduk di kursi roda. Setelah dilacak melalui jaminan kesehatan milik yayasan pensiun tempat ayah dulu mengabdi, menunjukkan bahwa ayah pernah di rawat beberapa kali di rumah sakit yang kini saya bekerja di sana. Dan disana terdapat data nomor telepon dari seseorang yang bernama Ardy Firmansyah, kemudian saya menelepon nomor tersebut namun yang menerima adalah asisten rumah tangga pak Ardy. Saya katakan bahwa, saya dari pihak rumah sakit dan hendak menanyakan perihal kesehatan Pak Andi untuk data asuransi. Akhirnya asisten itu menceritakan tentang ayah dan memberikan alamat ini kepada saya” Agung pun mengahiri kisahnya yang begitu panjang,

Pak Andi terlihat menangis penuh haru dan tampak pula mata Arya dan pipit yang sejak tadi duduk di pinggir kasur dan menyimak kisah tersebut ikut larut dalam keharuan, dan mata mereka pun berkaca-kaca .

“Ayah, tujuan saya kemari dan menemui ayah adalah salah satunya menunaikan amanah dari almarhumah ibu yang mengatakan kepada saya, agar saya mencari ayah untuk mengucapkan terimakasih atas semua yang telah ayah lakukan kepada saya dan ibu” Lanjut Agung,

“Nak Agung, nggak perlu sampai repot-repot seperti ini, sebab sudah kewajiban kita untuk saling menolong dan berbagi bukan saja dengan saudara dan orang yang kita kenal. Namun kepada semua sesama kita, wajib bagi kita untuk murah hati dan ringan tangan dalam menolong serta membantu. Dan dalam membantu terus terang, saya tak mengharapkan pamrih apapun” Ucap pak Andi

Sebelum Agung mengucapkan kata-katanya muncullah dari balik pintu seorang anak laki-laki dan dengan lincahnya ia berlari dan menghampiri pak Andi, seraya memeluk kedua pahanya dan mengucap,

“Papa.. ini kakekku…” Ucapnya, dan ia pun memegang tangan pak Andi dan menempelkan di dahinya sebagai tanda hormat,

“…” Pak Andi hanyut dalam kesedihan, haru dan bahagia. Ia begitu bahagia manakala seorang anak kecil menyebutnya kakek dan memeluknya dengan hangat, tiga tahun lamanya ia menahan kerinduan akan cucunya hadir dan berkata “kakek” serta memeluknya, kini bagaikan hujan sehari yang telah menghidupkan tanah yang telah mati, terobati sudah dahaga kerinduanya oleh setetes embun di pagi hari… terimakasih Tuhan atas segala nikmat yang telah Engkau berikan… kini aku mengerti, inilah tugas yang terakhir dari-Mu yaitu menantikan kedatangan satu keluarga kecil yang akan menghapuskan dahaga kerinduanku, satu keluarga yang akan menghidupkan jiwa dan hati yang telah kering… terimakasih Tuhan atas segala kesempatan yang telah Engkau berikan…

Cerpen Karangan: Ar Rahadian

Blog: Arsy_imanuel.blogspot.com

Ini merupakan cerita pendek karangan Ar Rahadian, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Ar Rahadian untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis yang telah di terbitkan di cerpenmu, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!

Cerpen ini lolos moderasi pada: 30 September, 2013

Lembayung sore yang indah membuat bumi seakan bewarna jingga, suara burung seakan menambah keindahannya. Saat itu aku berumur tujuh tahun di sebuah danau dekat rumahku. aku berdiri tepat di pinggir danau melihat pemandangan dimana pohon pohon besar berdiri dengan gagahnya, burung burung berkicau dengan bahagia dan ikan ikan bermain dengan senangnya dan bunga bunga lotus tampak indah menghiasi danau, aku duduk di antara kebahagian alam melamun sambil memperhatikan sekeliling. dari kejauhan tampak seorang gadis kecil yang seumuran denganku sedang menatap danau. aku berdiri dengan perlahan dan coba mendekatinya dia tersenyum saat melihatku dia seperti malaikat kecil, hati ku berdebar saat melihatnya seakan akan terjadi sesuatu di dalam hatiku tapi aku tidak tahu apa itu, saat itu aku belum mengenal yang namanya cinta.

“kamu lihat apa?” tanyaku dengan gugup.

“bunga itu” dia menunjukan jarinya pada bunga lotus yang ada di danau.

“kamu suka bunga itu?”

“iya” dia tersenyum menatapku sebentar lalu kembali memperhatikan bunga lotus itu.

Aku berjalan mendekati air danau menjulurkan tanganku mengambil satu bunga lotus, dia hanya diam sambil memperhatikanku menggapai kesusahan menggambil bunga itu.

“ini buat kamu” aku tersenyum memberikan bunga itu, tapi mimik wajah gadis itu seperti menunjukan sesuatu yang lain.

“kenapa kamu mengambilnya?” nada gadis itu sedikit berbeda.

“karena kamu suka bunga ini” wajahku meredup menjawab pertanyaannya.

“aku suka melihat bunga itu ada di sana di tempatnya bersama tema-temanya, tapi sekarang kamu malah merusaknya” gadis itu marah menatapku dengan tatapan benci.

Aku hanya tertunduk melihat gadis itu marah aku ingin mengatakan maaf tapi gadis itu pergi begitu saja meninggalkanku dangan bunga yang kupegang. aku pulang dangan rasa bersalah, aku hanya ingin memberinya bunga ini berharap dia senang tapi aku malah membuatnya marah bahkan aku pun belum tahu siapa namanya.

kusimpan bungan itu dalam kaleng bersama mainan-mainanku yang rusak, aku tidak ingin melihat bunga itu lagi, karena dengan melihatnya membuat rasa bersalahku semakin besar, aku benci dengan bunga itu.

Sejak saat itu hingga sekarang aku masuk smp, aku masih benci dengan bunga lotus entah kenapa mungkin karena saat itu aku mencintai gadis itu, sampai saat ini aku tidak pernah bertemu dengan gadis bunga lotus itu entah bagaimana kabarnya dan sedang apa dia sekarang yang jelas dia cinta pertamaku, dan bunga lotus itu masih tersimpan dalam kaleng hingga saat ini.

Ini hari pertamaku masuk smp, hari pertama mengenal teman-teman baru setelah menyelesaikan sekolah dasar, orang tuaku memasukanku di smp swasta yang cukup terkenal di kota ini. aku bersiap untuk berangkat sambil mengencangkan tali sepatuku.

Di sekolah aku bertemu dengan berbagai macam orang, aku bisa merasakan kebahagian mereka, karena diriku pun sama bahagianya seperti mereka, aku bahagia karena aku telah naik satu tingkat aku bahagia karena aku sudah bukan anak-anak lagi yang memakai seragam putih merah. aku berjalan mengelilingi sekolah dengan sesekali melihat ruangan-ruangan yang ada, aku berjalan menuju aula yang terletak di depan ruang guru, belum sempat sampai di aula langkahku terhenti karena bertabrakan dengan seorang gadis, hatiku berdebar saat melihatnya, seorang gadis berwajah cantik berhidung mancung entah kapan sepertnya aku pernah bertemu dengannya tapi dimana entahlah, kubuang jauh jauh pikiran itu.

“eh sory…” ujar ku dengan sangat menyesal telah menabraknya.

“gue yang sory ga merhatiin jalan” dia hanya tersenyum sambil menatapku.

Hatiku maasih berdebar, seperti ada bom yang ditaman dalam jantungku, bahkan saat dia pergi meninggalkanku sendiri di aula, lamunanku seolah-olah bermain dalam pikiran ku entah apa yang terjadi dalam diriku saat ini yang jelas saat ini aku jadi bersemangat untuk sekolah.

Sekolah telah berjalan tiga pekan lamanya tugas demi tugas datang silih berganti, tidak pernah satu tugas pun yang kulewatkan hampir setiap tugas kuselesaikan dengan baik, pagi saat tugas itu diberikan oleh guru malam harinya langsung kukerjakan begitu seterusnya, dan gadis yang kutabrak di aula hampir setiap hari aku melihatnya, terkadang kami saling senyum saat berpapasan dan hatiku masih tetap berdebar saat melihatnya.

Jam menunjukan pukul 14:00 bell pulang sekolah pun terlah di bunyikan, semua murid mulai memasukan buku-buku yang tergeletak di mejanya masing masing begitu juga aku, semua murid nampak begitu semangat saat pulang sekolah. hari ini aku pulang agak terlambat, aku harus mencari bunga untuk tugas biologiku.

Aku tau harus kemana untuk mencari bunga?, pikiranku tertuju pada satu tempat. sudah lama juga aku tidak ke tempat itu, tanpa berlama-lama aku langsung menuju tempat tujuanku, danau dekat rumah sudah lama aku tidak mengunjungi tempat ini mungkin terakhir kali aku mengunjungi tempat ini saat umurku tujuh tahun saat dimana aku sangat merasa bersalah telah membuat seorang gadis marah.

Sejenak ku tatap sekelililing danau tidak ada yang berubah saat terakhir kali aku kesini, pohon pohon masih nampak terlihat gagah, dan burung burung masih nampak berkicau dengan bahagia, begitu pun ikan masih nampak senang bermain dengan teman temanya dan bunga itu masih nampak indah.

Tidak banyak bunga yang terdapat di danau ini hanya bunga bunga tulip, kembang sepatu, dan bunga lotus, aku tidak berminat untuk memilih bunga lotus entah kenapa melihatnya pun aku malas, mungkin karena kejadian beberapa tahun silam aku jadi tidak menyukai bunga itu. nampak dari kejauhan seorang gadis yang sedang berdiri di samping danau, “sepertinya aku mengenali gadis itu” aku berjalan perlahan memastikan apakah aku mengenalinya, baru setengah jalan aku mendeketinya gadis itu menoleh ke arahku sambil tersenyum.

“kamu? sedang apa disini?” aku terkejut melihat gadis itu yang tidak lain adalah gadis yang kutabrak di aula waktu itu, jantungku berdetak dua kali lipat lebih kencang dari sebelumnya.

“kamu sendiri sedang apa disini?” gadis itu tersenyum melihat ku kebingungan.

“aku sedang mencari bunga untuk tugas biologi ku” jawabku gugup.

“oya cari bunga apa?” ia mengernyitkan wajahnya sambil menatapku

“belum terpikirkan” jawab ku singkat “kamu sedang apa disini? tambahku.

“setiap sore aku kesini melihat bunga bunga itu” dia menunjukan jarinya ke arah bunga lotus itu.

“aku tidak menyukai bunga itu” jawabku ketus.

Dia hanya mengerenyit kan wajahnya heran melihatku.

“oya kita sering bertemu di sekolah tapi aku tidak pernah tau namamu” aku mencoba mengalihkan tatapan heranya dengan bertanya.

“namaku kinara, nama mu?” dia tersenyum melihatku membuat jantung seakan berhenti. melihat senyumanya seakan melontarkanku pada masa lalu di mana seorang gadis meninggalkanku dengan memegang bunga lotus, mungkinkah gadis ini? Aku segera membuang jauh jauh pikiran itu.

“nama ku keenan” ujar ku membuyarkan lamunan.

“kau sudah menemukan bunga yang kau cari?” ungkapnya dengan nada menyelidik.

“belum tidak ada bunga yang cocok disini” tukasku.

“kau bisa memilih bunga lotus itu” jawab dia tanpa memalingkan wajahnya dari bunga lotus itu.

“aku tidak suka bunga itu” jawabku sinis.

“kenapa? ada yang salah dengan bunga itu?” kali ini dia antusias dengan jawabanku.

“tidak apa apa” jawabku masih sinis.

“aku suka dengan bunga lotus itu, bunga itu bisa tumbuh di air kotor sekalipun bahkan bisa membuat air kotor menjadi jernih” jawabnya tanpa menoleh ke arahku.

“aku membenci bunga itu, kami sudah lama bermusuhan” jawab ku dengan nada sinis. sebegitu ajaibkah bunga itu, tapi sayang aku terlanjur membencinya.

Gadis ini mengingatkan ku pada gadis bunga lotus itu, sekaligus mengingatkan pada kejadian yang tidak ingin ku ingat ingat kembali, mungkin sekarang bunga lotus yang kusimpan dalam kaleng bersama mainan-mainan ku itu sudah mengering dan tidak karuan bentuk nya.

“kenapa kau membencinya?” jawabnya dengan tampang prihatin.

“saat aku berumur tujuh tahun aku suka ke danau ini, aku suka melihat pemandang danau ini dan dulu aku suka dengan bunga itu sama sepertimu, tapi itu dulu” jawabku lalu duduk di pinggir danau itu tanpa mengubah komitmenku, dia mengikutiku duduk.

“lalu mengapa kau membencinya?” dia bertanya tanpa memalingkan wajahnya dari bunga lotus yang ada di depan kami.

“aku membencinya karena dia telah membuatku menyakiti seorang gadis, gadis itu menyukai bunga itu sama seperti kau, aku mengambil satu bunga itu dan hendak memberikanya tapi dia malah marah dan pergi meninggalkanku, sampai saat ini masih ku simpan bunga lotus itu mungkin sekarang sudah mengering dalam kaleng” ceritaku. Dia hanya termenung berkaca kaca melihat ku “mungkin dia adalah cinta pertamaku dan aku belum sempat meminta maaf padanya bahkan belum tahu namnya, itu sebabnya aku membenci bunga itu” tambahku sambil menghela nafas dan menatap bunga itu dalam dalam.

Air mata kinara pun merebak dan bergulir di pipinya, pelupuk matanya tidak lagi mampu membendung air yang terus keluar. sambil terisak-isak gadis itu berkata “maafkan aku telah marah padamu dulu, maaf kan aku tidak menerima bunga itu, setiap hari aku ke danau ini berharap bertemu denganmu untuk meminta maaf tapi kau tidak pernah datang” aku termenung menatapnya dengan mata berkaca-kaca hatiku pilu mendengarnya.

“ternyata kau gadis bunga lotus itu, maafkan aku telah merusak bunga itu, aku hanya ingin memberimu bunga itu” pelupuk mataku pun tidak sanggup menahan air yang keluar terus menerus tangisku pun pecah.

Sejak kejadian itu aku tidak lagi membenci bunga lotus, aku berterimaksih banyak pada bunga itu karena dia, aku menemukan gadis yang selama ini aku cari, kami menjalin hubangan sejak saat itu hingga sekarang kami telah mempunyai dua anak dan hidup bahagia bagai bunga lotus.

Cerpen Karangan: Raden Denis Indrawan

Blog: http://radendenisindrawan.blogspot.com/

Ini merupakan cerita pendek karangan Raden Denis Indrawan, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Raden Denis Indrawan untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis yang telah di terbitkan di cerpenmu, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!

Cerpen ini lolos moderasi pada: 6 August, 2013